Fikih Kehidupan “Seputar Qurban dan Aqiqah, mana yang didahulukan?”

0 18

Dalam kajian konsep ekonomi Islam, salah satu yang membedakannya dengan konsep ekonomi kapitalis dan sosialis adalah ketajamannya dalam memperhatikan maslahat individu sekaligus masyarakat secara umum. Tidak berat sebelah kepada individu papan atas (kapitalis), dan kepada masyarakat menengah kebawah (sosialis).
.
Ini adalah pemahaman awal yang sangat penting sebelum memahami aturan-aturan yang sekilas memberatkan pemilik harta secara khusus, seperti kewajiban zakat, shadaqah, waqaf, hibah, dan lain-lain termasuk qurban dan aqiqah. Jangan sampai muncul persepsi bahwa Islam adalah agama yang memberatkan karena terlalu banyak mensabotase kebebasan kepemilikan harta, perlu kiranya menzoomout cara pandang dengan membandingkan konsep ekonomi kontemporer lainnya.
.
“Qurban dan Aqiqah misalnya, keduanya masuk dalam bentuk shadaqah musiman yang salah satu fungsi utamanya adalah pemerataan kondisi ekonomi masyarakat”. Dalam bahasa arab disebut “التكافل والضمان الاجتماعي”.
.
Terlalu jauh mungkin membahas posisi qurban dan aqiqah dalam konsep ekonomi Islam, hal di atas hanya sebagai landasan sekilas saja sebelum membahas Qurban dan Aqiqah secara spesifik. Yang jelas gini, ada sebuah pertanyaan yang terulang setiap tahun menjelang iedul adha; jika si A belum diaqiqahi oleh bapak atau kakeknya, apakah ketika dia sudah dewasa dan mampu, boleh berqurban untuk dirinya?
.
Jawabannya adalah ‘boleh’. Masalah qurban dan aqiqah tidak selayaknya dibenturkan sebenarnya. Jadi, kalau ada yang mengatakan tidak boleh qurban sebelum aqiqah, maka itu berawal dari pemahaman yang keliru tentang aturan main qurban dan aqiqah. Ada tiga poin penting yang perlu di perhatikan:
.
1. Persamaan qurban dan aqiqah adalah keduanya sama-sama sunnah, dalam madzhab syafi’i sama-sama sunnah muakkadah, akan tetapi kesunnahan itu bagi siapa? mari kita rinci; qurban disunnahkan bagi setiap kepala yang muslim, baligh, merdeka, dan mampu (على المنفرد المسلم البالغ الحر المستطيع). Jadi, ia tidak sunnah bagi orang miskin, budak, anak kecil, dan orang lain, sekalipun bapaknya. Jika si A ini memiliki bapak si B, maka si A disunnahkan berqurban jika memenuhi syarat di atas, bukan si B, walaupun jika si B mampu dia boleh berqurban untuk anaknya. Sedangkan aqiqah, ia disunnahkan bagi orang yang wajib menafkahi si anak, baik bapak atau kakek (على من تجب عليه نفقته). Jadi, ia bukan disunnahkan bagi seorang anak untuk dirinya sendiri. Jika si A ini memiliki bapak si B, maka aqiqah hukumnya sunnah bagi si B dari hartanya sendiri, bukan harta si A, sekalipun jika sudah dewasa dan belum diaqiqahi, maka si A boleh mengaqiqahi dirinya sendiri. Keseimpulannya, jika kita sudah dewasa dan hendak berqurban, maka berqurbanlah sekalipun kita belum diaqiqahi, karena kita disunnahkan berkorban saja, tidak disunnahkan aqiqah.
.
2. Persamaan antara qurban dan aqiqah adalah keduanya sama-sama memiliki waktu yang lapang untuk mengerjakannya/muwassa’, bedanya adalah waktu untuk berqurban lebih sempit dari waktu aqiqah. Waktu berqurban dimulai dari terbitnya matahari hari ied setelah shalat 2 rakaat (10 dzul hijjah), hingga terbenam matahari di hari tasyriq terakhir (13 dzul hijjah). Sedangkan waktu aqiqah dimulai dari dilahirkan si anak hingga dia baligh. Artinya, sebuah kesunnahan itu memiliki waktu, jika waktu itu terlewat, maka kesunnahan sudah tidak berlaku lagi. Dalam hal aqiqah, jika si A ini sudah baligh, maka sudah tidak ada kesunnahan lagi bagi si B selaku bapaknya, untuk mengaqiqahi anaknya (فيسقط عنه الاستحباب ببلوغ الولد). Kesimpulannya, jika kita sudah dewasa dan hendak berqurban, maka berqurbanlah sekalipun kita belum diaqiqahi, karena sekarang adalah waktu disunnahkan untuk berqurban, bukan untuk sunnah aqiqah.

3. Jika hendak menzoomout qurban dan aqiqah dengan kacamata empat madzhab, dan membandingkan kekuatan kalkulasi perbedaan pendapatnya, maka qurban lebih kuat dari pada aqiqah. Gini perbandingannya, menurut mayoritas, qurban hukumnya sunnah dan menurut madzhab hanafi ia wajib, sedangkan aqiqah, menurut mayoritas hukumnya sunnah, dan menurut madzhab hanafi ia mubah. Jadi, jika kita hendak berqurban, maka berqurbanlah sekalipun kita belum diaqiqahi.

Disari dari Jawahir Azhariyyah dan Busyral Karim, wallahua’lam.

Oleh: Saiful Millah, Lc.

Leave A Reply

Your email address will not be published.