Menghadapi Pandemi dengan Tawakal

0 13

 

Sejak WHO Menetapkan COVID-19 sebagai pandemi (11/3), sebulan setelahnya (14/4) pemerintah Indonesia juga menetapkannya sebagai bencana nasional. Seperti yang dilansir situs bnpb.go.id,  pada Keppres No. 12 Tahun 2020 disebutkan bahwaCOVID-19 dinyatakan sebagai bencana non alam yang harus cepatditanggulangi. Lalu melalui Keppres no. 7 Tahun 2020 yang diubah menjadi Keppres no 9 Tahun 2020, presiden membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Pemerintah pusat dalam hal ini dinilai cukup sigap,meski dalam tindakan konkrit masih belum sebanding dengan usaha preventif yang dilakukan oleh negara lain dalam memberlakukan status Lockdown. Sebut saja Malaysia, otoritas negeri Jiran itu memberlakukan movement control order (MCO) sejak 18/3/2020. Di Mesir, otoritas negeri seribu menara ini memberlakukan Hazr et Tijwal sejak 25/3/2020. Sementara Indonesia, dalam hal ini Jakarta, berdasarkan Pergub DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 baru memberlakukan PSBB tanggal 10/4/2020.

Meskipun beberapa daerah lain sperti Jawa Barat, Sumatera barat, Surabaya juga memberlakukan hal yang sama, namun kebijakan ini hanya bersifat lokal. Mengingat, Pemerintah Pusat dengan tegas menolak Lockdown secara nasional karena pertimbangan ekonomi.Tentu kekhwatiran dampak ekonomi ini bukan tanpa alasan. Sebab, faktanya nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat melewati Rp.16.000 per dolar (waspada,21/3/2020). Bahkan rupiah berada pada level terendah Rp. 16.550 per dolar (CNN INDONESIA, 23/3/2020).

Jika anggapan dampak terburuk dari pandemi saat ini ada di sektor ekonomi, bagi penulis itu kurang tepat. Pasalnya, melihat perkembangan ekonomi melalui indikator kurs rupiah-dolar, sepertinya krisis ekonomi tidak terjadi. Sebab nilai tukar rupiah saat ini kembali menguat. Kalaupun terjadi, krisis ekonomi saat ini tidak seburuk krisis yang pernah terjadi di tahun 1998. Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar walau sampai Rp.16.000, hanya berkisar 12 persen tidak seperti tahun 1998 yang mengalami penurunan hingga delapan kali lipat.(CNN INDONESIA, 26/3/2020). Artinya, kenaikan harga barang-barang tidak begitu tinggi. Meski masih resesi namun ekonomi masyarakat tergolong masih stabil.

Lain halnya pada sektor agama. Jika dicermati lebih seksama justeru Agama- dalam hal ini Islam – yang terdampak paling buruk akibat pandemi. Bukan hanya pada aspek Syariat saja tapi pada aspek Akidah juga. Bedanya, kalau dampak pada aspek Syariat terlihat jelas misalnyadenganterhalangnyapelaksanaan salat berjamaah di mesjid, namun pada Akidah seolah tidak terlihat karena yang terdampak adalah pada keyakinan. Diakui atau tidak, pandemi merubah paradigma banyak orang islam terhadap takdir.

 

Musibah Bagi Seorang Muslim

Setiap muslim berkeyakinan bahwa tidak ada satu musibah yang menimpa dirinya kecuali semua atas izin Allah (Q.S.64:11). Dalam Alquran , musibah terkadang disebut ibtila’ (cobaan). Cobaan ini bisa berwujud ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, nyawa dan lain sebagainya (Q.S.2:155). Bukan hanya hilang nikmat saja, tapi mendapat nikmat juga disebut cobaan (Q.S.21:35). Hanya saja saat nikmat itu didapat berarti karena rahmatNYA, sebaliknya jika nikmat itu hilang maka biasanya disebabkan oleh dosa yang dibuat (Q.S.4:79).

Wabah corona yang sudah berlangsung kurang lebih empat bulan ini, dalam keyakinan muslim adalah musibah. Maka tidak ada sikap yang lebih tepat kecuali bersabar. Bahkan sebagai implementasi sabar tersebut, stiap muslim dianjurkan untuk mengucapkan kalimat al istirja’ dengan menyebut Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Tentu kalimat itu bukan sebatas ucapan, melainkan tersirat makna yang mendalam sebagai bentuk kerelaan dengan menyatakan semua yang ada dunia ini milik Allah dan akan kembali padanNYA.

Hingga di sini tidak ada persoalan. Walaupun tidak serta merta orang yang mengucapkannya bisa meghayati, namun sikap rido tersebut merupakan implementasi keyakinan dirinya terhadap sesuatu yang disebut sebagai takdir. Meyakini takdir sebagai sesuatu yang ditetapkan sejak azali dan bernilai hikmah saat terjadi adalah bagian dari akidah seorang muslim. Karena percaya pada qada (sesuatu yang ditetapkan) dan qadar (sesuatu yang diputuskan) adalah bagian dari tauhid.

Yang jadi persoalan adalah ketika pandemi ini tak kunjung usai. Misalnya salah seorang anggota keluarga atau bahkan dirinya menjadi korban. Di sini membuat keyakinan terhadap takdir itu pudar. Semula sikap sabar bisa dipertahankan dan husnuzzan pada Allah masih dipegang teguh, namun berujung pada krisis akidah. Akal tidak mampu berpikir jernih dan hati tidak lagi bersih. Tidak mampu menangkap hikmah dibalik kejadian. Padahal sesuatu yang dibenci tidak selamanya buruk, sebaliknya hal-hal yang disuka tidak selamanya baik (Q.S:2:216).

Bukan hanya itu, krisis akidah bukan hanya pada mereka yang terkena musibah, baik yang sakit atau meninggal dunia, melainkan juga pada mereka yang sehat. Kekhawatiran yang berlebih karena takut terpapar membuat banyak orang justeru bersipkap over. Ini terbukti misalnya dari sikap sebagian masyarakat menolak pemakaman terhadap jenazah pasien Covid. Begitu juga dengan mereka yang over protective karena khwatir tertular. Terkadang lebih yakin terhadap usaha pencegahan lantas melupakan tawakal. Padahaldalam konsep akidah yang benar , sakit dan mati adalah takdir. Meski sakit menyebabkan mati, namun kematian seorang bukan karena penyakit melainkan Allah berkehendak. Sama halnya dengan obat. Yang menyembuhkan seseorang dari penyakit adalah Allah, sementara obat sebatas usaha.

Tawakal Hilang Akibat Corona

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa tawakal merupakan esensi dari tauhid. Tawakal merupakan salah satu wujud keimanan seseorang pada Allah. Sebab iman terbentuk dari tiga hal ; ilmu, amal dan hal (kondisi mental). Ilmu sebagai pondasinya, amal sebagai hasilnya dan tawakal sebagai kondisi mental yang dianugerahi Allah pada hambaNYA. Beliau mensejajarkan tawakal dengan musyahadah.

Pandangan ini menyadarkan kita tentang hakikat tawakal yang hakiki. Dalam teori kasab disebutkan, meskipun manusia diberikan kebebasan bertindak namun yang menentukan adalah kuasa Allah. Artinya, Tawakal di sini menuntut penyerahansecara totalitas pada Allah terhadap usaha optimal yang dilakukan. Dengan kata lain, sebesar apapun usaha yang dilakukan, bagi Allah yang menentukan adalah kehendakNya untuk terjadi atau tidaknya seseuatu.

Di sini, kejenuhan akibat pandemi berpotensi mengikis kesabaran, atau mengubah pandangan dari semula husnuzzan pada suuzzan membuat tawakal tercabut dari diri seorang muslim. Sehingga terjadi krisis keimanan yang mengantarkan dirinya bersikap layaknya penganut Jabariah atau Qadariah. Sebagian menjadi terlalu pasrah, sebagian lain terlalu percaya dengan usahanya. Padahal, dalam akidah harusnya berlaku pertengahan (wasatiy). Sebab tawakal adalah berusaha sebaiknya, dan meyakini sepenuhnya semua hasil yang diterima adalah yang terbaik di sisi Allah.

Husnuzzan Pada Allah Agar Terbebas Krisis

Hanya satu cara untuk keluar dari krisis akidah akibat Corona. Kembali berbaik sangka pada Allah. Jika iman menjadi lemah karena kurang tawakal diakibatkan pandemi yang tidak berkesudahan, maka memperbaikinya dengancara menganggap baik pada semua takdir, baik yang telah ditetapkan Allah maupun yang akan diputuskan nantinya. Ini merupakan usaha untuk merehabilitasi Iman. Seperti yang diterangkan dalam Hadis , Allah selalu sesuai prasangka hambaNya, jika berprasangka baik maka ia akan mendapati kebaikan namun jika berprasangka buruk maka ia akan mendapati keburukan.

Semoga pandemi ini merupakan musibah bagi kita untuk menghapus dosa dan menyadarkan dari kesalahan yang pernah dibuat. Dengan demikian menjadi intropeksi diri untuk berbuat yang lebih baik ( ahsanu ‘amala). Semoga bukan menjadi sebagian azab yang ditimpakan sebelum merasakan azab di akhirat.

Allahummasrif ‘annal bala’ wal waba’

Oleh: Fery Ramadhansyah
(Kandidat Doktor Cairo University dan Awardee LPDP)

Leave A Reply

Your email address will not be published.