Metafisika dalam Perspektif Al-Qur’an

0 33

Istilah metafisika hampir serupa dengan hal yang gaib atau al-ghaîb dalam bahasa arab, kata al-ghaîb dalam kamus ”Lisân al-‘Arab” berarti segala sesuatu yang sirna dari kamu, dan juga segala yang tidak tampak oleh mata. Dalam konteks pembahasan ini penulis lebih memilih makna al-ghaib dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata. Berangkat dari urgensinya pembahasan ini maka tidak heran jika dalam bagian permulaan al-Qur’an tepatnya pada (Q.S. al-Baqarah [2]: 3) Allah SWT. menekankan tentang wajibnya beriman pada hal-hal yang gaib.

Imam al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan tentang makna al-ghaîb dalam ayat itu, beliau berkata : ” para mufassir berbeda pendapat dalam mentakwil kata al-ghaib, sebagian dari mereka mentakwil dengan qadha dan qadar, ada juga golongan yang memaknainya dengan Allah SWT., tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Ibn al-‘Arabi (w. 231 H), sebagian kelompok lain menafsirinya dengan segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal, seperti tanda-tanda hari kiyamat, siksa kubur, hari kebangkitan, surga dan neraka. Pendapat-pendapat ini dikuatkan oleh Syeikh Ibn ‘Athiyyah (w. 541 H) dengan perkataanya bahwa tidak ada kontroversi dalam penafsiran-penafsiran mereka, bahkan yang terjadi adalah saling melengkapi dan makna al-ghaîb terkumpul dalam perbedaan tersebut.

Adapun Syeikh Abu al-Su’ûd dalam buku tafsirnyanya Irsyâd al-‘Aqli al-Salîm ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm berpendapat bahwa kata al-ghaîb adalah sesuatu yang tidak bisa diterka oleh salah satu dari indera (al-his) dan akal (al-‘aql) secara mutlak, meskipun dengan cara badîhiy (spontan/otomatis). Beliau membagi sesuatu yang ghaib ke dalam dua kategori, yaitu hal gaib yang tidak ada dalil atau cara untuk bisa mengetahuinya, inilah yang sesuai dengan firman Allah SWT. Q.S. al-An’am :59 :
وعنده مفاتح الغيب لايعلمها إلاهو… الآي. Kemudian yang ke dua adalah sesuatu yang gaib tetapi masih ada celah atau cara untuk mengetahuinya, seperti untuk mengetahui tanda-tanda adanya Sang Pencipta, sifat-sifatNya, kenabian, hal-hal yang terkait dengan hukum dan syariat, hari akhir, hari kebangkitan, hari perhitungan, dan juga hari pembalasan. Kelompok yang ke dua ini lah yang dimaksud dalam penjelasan makna al-ghaîb menurut beliau.

Syeikh Muhammad al-Thâhir ibn ‘Âsyûr dalam al-Tahrîr wa al-Tanwîr menambahkan penjelasan tentang kandungan ayat tersebut, beliau berpendapat bahwa kekhususan dalam penyebutan iman terhadap hal yang gaib –bukan dengan menyebut hal lain yang memiliki korelasi juga dengan keimanan– adalah karena iman terhadap hal yang gaib merupakan inti dari sebuah akidah, dimana hal itu bersumber dari ajaran yang disampaikan Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang wujudnya Allah SWT.

Apabila seseorang beriman dan mencermati dengan seksama terhadap hal-hal yang disampaikan Rasulullah saw., maka ia akan lebih mudah mengetahui tanda-tanda kebenaran ajaran-Nya. Sedangkan orang-orang yang hanya mengimani hal-hal yang bisa dijangkau oleh panca indera saja (al-mâddah/al-thabî’ah) dan sama sekali tidak mengimani hal-hal di luar materi (mâ warâ’a al-mâddah), maka pada hakekatnya mereka telah mengingkari kebenaran ajaran Rasulullah saw. yang sudah menjelaskan tentang wujudnya Allah dan adanya kehidupan di akherat. Mereka sering disebut dengan golongan mâddiyyûn atau dahriyyûn yaitu orang-orang yang hanya percaya dengan hal yang bersifat materi saja.

Selain perbedaan pendapat di atas, ada juga penafsiran tentang makna al-ghaîb yang menurut penulis lumayan unik, artinya sangat berbeda dengan penafsiran yang penulis sampaikan sebelumnya. Misalnya, pendapat yang disampaikan oleh Syeikh al-Jamal dalam bukunya al-Futûhât al-Ilâhiyyât, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud al-ghaib adalah hati, karena hati itu tertutup (tidak nampak), sehinga maksudnya adalah bahwa orang-orang yang bertaqwa itu beriman dengan hati dan tidak seperti orang munafik yang antara mulut dan hatinya tidak sama.

Berangkat dari pembahasan makna al-ghaib di dalam al-Qur’an, maka pada makalah ini penulis akan mencoba mengkorelasikan dengan pembahasan metafisika atau populer juga dengan istilah ما وراء المادّة . Dari sini bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa pembahasan tentang hal di luar materi tidak hanya dibahas oleh filsafat Yunani atau filsafat kuno lainnya, tetapi juga dikupas secara mendalam di kitab suci al-Qur’an. Bahkan sepertiga isi al-Qur’an berbicara tentang akidah dan sebagian besar dari isi akidah berbicara tentang hal-hal yang gaib. Di sinilah manusia akan selalu diuji keteguhan imannya, di saat ia harus selalu yakin terhadap hal-hal yang hanya bisa dimengerti dengan tanda-tandanya saja.

Pembahasan tentang keimanan terhadap hal yang gaib menjadi sangat penting, khususnya tatkala dihadapakan oleh fakta dimana banyak kelompok –sebut saja atheis dan sejenisnya– di berbagai penjuru dunia yang tidak mengakui adanya Allah SWT. Padahal dengan pendekataan akal saja –tanpa dogma agama– naluri mayoritas manusia akan mengakui ‘’ secara naluri’’ adanya pencipta alam semesta ini. Munculnya kaum atheis tentunya dengan berbagai macam faktor, baik itu internal ataupun eksternal. Sehingga ini menjadi ancaman yang serius bagi generasi di abad modern dan menjadi tugas berat serta mulia bagi para agamawan untuk memberikan pencerahan terhadap mereka. Tentunya kita tidak bisa membayangkan suasana kehidupan di saat orang-orang sudah tidak mempercayai Allah atau sebaliknya di saat manusia sama sekali tidak peduli dengan dunia dan hanya sibuk dengan ritual di tempat-tempat ibadah saja. Oleh karena itu, datanglah risalah Nabi Muhammad saw. yang mengajarkan manusia tentang perlunya keseimbangan antara kesibukan untuk urusan dunia dan akhirat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Oleh: Faiz Husaini, Lc., MA.
(Mahasiswa program doktoral, Jur. Tafsir & Ulum al-Qur’an, Univ. al Azhar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.