Tsawabit Wal Mutaghayyirat

0 3

Penting sekali mengetahui bahwa di dalam Islam ada dua jenis hukum; tsawabit (Hukum-hukum prinspil yang tidak akan berubah), dan mutaghayyirat (hukum-hukum yang fleksibel, bisa berubah dengan mempertimbangkan perubahan tempat, waktu, orang, dan kondisi). Dengan mengetahuinya, kita bisa memahami teori ‘Islam adalah agama akhir zaman yang pantas untuk setiap tempat dan waktu’, bisa memahami teori ‘tajdid/pembaharuan fikih’, juga bisa memahami teori ‘Islam yang dinamis tanpa kehilangan jati diri’.

Tentang tajdid/pembaharuan fikih misalnya, secara logis bisa dikatakan bahwa ia adalah hal yang harus ada di setiap zaman, selama objek tajdidnya adalah hukum-hukum fikih yang bisa berubah (mutaghayyirat). Karena fikih itu sendiri objeknya adalah pekerjaan manusia, dan pekerjaan manusia terus berubah mengikuti perkembangan zaman sekalipun tema besarnya sama. Pun dalil-dalil syariat terbatas dan kasus-kasus baru selalu bermunculan. Bayangkan, permasalahan zaman sekarang sangat komplek, jauh dengan zaman sebelumnya, misalnya fenomena ekonomi Islam yang semakin berwarna, munculnya lembaga-lembaga investasi, kasus kedokteran, biologi, politik, filsafat, dan lain-lain, yang mana semuanya membutuhkan jawaban hukum fikih.

Salah seorang ulama madzhab Hambali, Imam Buhuti mengatakan, “Jika ada Ibu hamil yang meninggal, sedangkan si janin masih ada kemungkinan hidup, maka haram membedah perut sang ibu demi menyelamatkan janin. Dikarenakan kita merusak kehormatan manusia meskipun sudah meninggal, demi menyelamatkan bayi yang tidak bisa dipastikan kehidupannya (حياة موهومة).

 

“فإن ماتت حامل بجنين يرجى حياته، فحرام شقّ بطنها لإنقاذ الجنين لما فيه من هتك حرمة لإبقاء حياة موهومة”

Namun bayangkan dewasa ini, dengan adanya perkembangan teknologi, seorang dokter sekarang dengan mudah memastikan keadaan si janin di dalam perut. Artinya, jika memang sudah bisa dipastikan kehidupan si janin di dalam perut ibu yang meninggal, maka boleh hukumnya membedah perut sang Ibu demi menyelamatkan si janin, karena sekarang kita sedang menyelamatkan bayi yang sudah dipastikan kehidupannya. Padahal menurut redaksi di atas, hukumnya seharusnya haram.

Apakah imam Buhuti salah? Jelas tidak, karena seorang mujtahid akan berijtihad sesuai dengan pengetahuan dan teknologi yang dicapai di zaman itu. Jadi, wajar jika beliau berijtihad seperti itu. Contoh paling jelas yang dicatat sejarah adalah Imam Syafii, produk hukum yang dia hasilkan ketika di Baghdad, praktis banyak yang berubah setelah dia pindah ke Mesir.

Namun, ada catatan yang sangat penting dalam pembaharuan fikih itu, yang disampaikan oleh Grand Syekh Ahmad Thayyib; bahwa yang berhak melakukan tajdid fikih adalah ahlinya, yang memahami ilmu ma’qul dan manqul, yang memahami turast, yang memahami metodologi penelitian, dan memiliki perangkat-perangkat analisis pemikirian. Itu pun harus dilakukan secara berkelompok, baik dalam satu bidang, atau pakar dari lintas bidang. Hal ini karena menurutnya, zaman sekarang sudah tidak mungkin ada ijtihad fardy (ijtihad individual).

 

Oleh: Saiful Millah, Lc.

Leave A Reply

Your email address will not be published.