Zakat Fitrah Untuk Faqir Non-Muslim, Bolehkah?

0 31

Secara umum, zakat atau “shadaqah wajibah” terbagi menjadi dua, yakni zakat mal/zakat harta (hewan ternak, uang, hasil pertanian, barang dagangan, barang tambang, dan barang temuan jahiliyah); dan zakat badan/fitrah. Imam Ibnu mundzir (318 H) mengatakan di dalam Ijma’nya:

“وأجمعوا على أن الذمي لا يعطى من زكاة الأموال شيئا”

“Ulama sepakat bahwa orang non-muslim tidak mendapatkan zakat mal sedikit pun”.

Sebelum menjadi ijma’, sebenarnya teks Al Quran memberikan makna umum, sehingga non-muslim pun berhak mendapatkan zakat mal, seperti pada ayat:

“إنما الصدقات للفقراء والمساكين …”

“Sesungguhnya zakat itu diperuntukan kepada orang-orang faqir dan miskin ..”.

Ayat tersebut tidak mengatakan untuk faqir miskin muslim saja. Namun ketika Rasulullah Saw mengutus sayyidina Mu’adz ke Yaman, beliau memerintahkan untuk memberitahu penduduk Yaman, bahwa Allah Swt mewajibkan zakat kepada mereka, di mana zakat itu diambil dari orang-orang kaya muslim dan juga diberikan kepada orang-orang faqir muslim.

“تؤخذ من أغنيائهم وتردّ على فقرائهم” (رواه البخاري و مسلم)

Makna dari ‘aghniyaihim’ adalah orang kaya muslim, dan ‘fuqaraihim’ adalah orang faqir muslim. Tanpa hadis ini, niscaya orang-orang non-muslim pun berhak mendapatkan bagian dari zakat mal.
.
Adapun zakat fitrah, imam Nawawi berkata dalam Al Majmu’:

“لا يجوز دفع الفطرة إلى كافر عندنا. وجوّزه أبو حنيفة، قال ابن المنذر؛ أجمعت الأمة أنه لا يجزئ دفع زكاة المال إلى ذمي، واختلفوا في زكاة الفطر، فجوزها لهم أبو حنيفة. وعن عمرو بن ميمون وعمر بن شرحبيل ومرة الهمذاني أنهم كانوا يعطون منها الرهبان. وقال مالك والليث وأحمد وأبو ثور؛ لا يعطون”.
.
“Dalam madzhab kita Syafii, zakat fitrah tidak diperbolehkan untuk orang non-muslim. Beda dengan Abi Hanifah, menurutnya, zakat fitrah boleh diberikan kepada non-muslim, sebagaimana ‘Amr bin Maimun, Umar bin Syirahbil, dan Murrah Hamadzani, mereka memberikan zakat fitrah kepada non-muslim. Adapun imam Malik, Ahmad, Laits, Abu Tsaur, mereka berpendapat tidak diperbolehkannya zakat fitrah untuk non-muslim”.
.
Artinya, masalah ini adalah masalah khilafiyyah, ulama berbeda pendapat. Bagi yang melarang, mereka berpandangan bahwa zakat fitrah dan zakat mal ini sama-sama wajib (shadaqah wajibah), sehingga ketentuannya pun harus sama. Ketika zakat mal tidak diperuntukan untuk non-muslim, begitu juga dengan zakat fitrah. Pun secara gamblang, Rasulullah Saw menjelaskan hikmah dari zakat fitrah adalah agar orang-orang faqir tidak ada yang meminta-minta di hari Idul Fitri. Nah, bukankah yang merayakan Idul Fitri adalah orang muslim? sehingga penerima zakat fitrah hanya orang muslim saja.

“أغنوهم عن سؤال هذا اليوم”

Akan tetapi, Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya memiliki pertimbangan lain. Menurut mereka, zakat fitrah dan zakat mal tidak sama, sehingga ketentuannya pun tidak boleh disamakan (qiyas ma’al fariq). Zakat fitrah adalah kewajiban seorang muslim atas jiwanya, sedangkan zakat mal adalah kewajiban seorang muslim atas hartanya yang sudah mencapai batas minimal zakat (nishab). Selain itu, justru hikmah yang lebih esensial dari zakat adalah mencukupi kebutuhan orang faqir, tidak terbatasi dengan faqir muslim saja.

“Sebuah perbedaan hakikatnya adalah rahmat”. Inilah prinsip yang harus dipegang, selama keadaan menuntut untuk memberikan non-muslim bagian dari zakat, maka berikanlah. Terlebih jika dalam keadaan yang sangat sempit, misal terjadinya wabah yang melanda umat manusia tanpa pandang bulu, berikanlah mereka yang membutuhkan tanpa melihat jaket keagamaan. Toh, Al Quran tidak melarang kita umat Islam untuk berbuat baik kepada non-muslim.

Seandainya kita tetap berpegang dengan pendapat madzhab Syafii pun, tidak berarti Islam adalah agama yang pelit, tertutup dan eksklusif. Umat Islam masih memiliki syariat shadaqah sunnah/cuma-cuma (shadaqah tathawwu’), yang mana ulama sepakat bahwa shadaqah ini boleh diberikan kepada mereka non-muslim. Adapun zakat fitrah dan zakat mal adalah kewajiban dan bagian khusus dalam agama Islam, karena setiap agama berhak memiliki aturan internalnya masing-masing.

Oleh: Saiful Millah, Lc.
Mahasiswa pascasarjana Univ. Al Azhar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.