Hikmah Pengulangan Ayat-Ayat Al-Qur’an

0 31


وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ * لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah Kitab yang mulia, (yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.” (QS. Fussilat [41]: 41-42)

Sebelum masuk kepada pembahasan, kita ingat lagi adanya sebagian orang yang mengatakan, “Pengulangan ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah kesia-siaan belaka. Pengulangan tersebut juga memberatkan lisan, membosankan pendengaran, sekaligus mengacaukan nilai-nilai keindahan dalam Al-Qur’an. Bagaimana bisa ia dikatakan wahyu dari Sang Rahman?”

Seseorang yang menganggap bahwa pengulangan dalam Al-Qur’an adalah sia-sia dan sebagainya, berarti tidak memahami betul sastra Arab, hakikatnya, beserta rahasia-rahasia di dalamnya. Sebagaimana disebutkan Dr. Jum’ah Ali Abdul Qadir dalam kitab Jalȃl Al-Fikr fȋ At-Tafsȋr Al-Maudhûȋ li Ayȃt min Al-Dzikr (2007). Jika dia memahami sastra Arab dengan baik, maka anggapan seperti di atas tidak akan pernah terjadi.

Jika orang-orang Arab sezaman dengan Rasulullah saw., yang menguasai bahasa mereka dan sastranya dengan saat baik, tidak pernah menyatakan anggapan seperti itu. Bagaimana bisa orang-orang non-Arab yang sangat miskin ilmu tentang seluk-beluk bahasa Arab, melakukannya? Jika orang-orang Arab Quraisy yang menjadi rujukan ketinggian bahasa dan sastra Arab saat itu tidak pernah menuduh pengulangan dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang buruk, bagaimana bisa orang-orang yang baru belajar bahasa Arab saat ini melemparkan tuduhan tersebut? Sungguh, sebuah tuduhan yang tidak disertai dengan bukti-bukti yang bisa diterima.
***

Menyelisik Pengulangan di Dalam Al-Qur’an

Pengulangan di dalam Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat Al-Qur’an. Semakin diulang, semakin memberikan cita rasa keindahan dalam hati. Hal ini berbeda dengan pengulangan yang terjadi secara umum dalam ucapan-ucapan manusia yang kadang justru membuat bosan. Memang, orang yang tidak terbiasa membaca serta mendengarkan bacaan Al-Qur’an atau tidak pernah menadaburinya, cenderung sulit menemukan keindahan tersebut.
Jika Anda ingin membuktikannya, cobalah membiasakan membaca Al-Qur’an, mendengarkan, serta memahami maknanya dengan penuh penghayatan.

Perhatikan ayat-ayat yang diulang, seperti ayat-ayat dalam surah Ar-Rahman فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ yang artinya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ayat tersebut diulang sebanyak 31 kali. Tentu saja, pengulangan di sini, bukan berarti pengulangan tanpa jeda. Ayat tersebut diulang, tapi terdapat sisipan dengan ayat-ayat lainnya.
Cobalah baca surah Ar-Rahman dan resapi cita rasa keindahan dalam pengulangan ayat-ayat tersebut di atas. Apakah Anda merasa bosan? Bacalah dengan hukum tajwid yang benar serta dengan “nada-nada bacaan” yang indah.

Lalu rasakan bahwa Allah sedang berbicara kepada Anda, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ingatlah segala nikmat Allah yang selama ini Anda terima. Sejak bangun tidur di pagi hari, hingga Anda tidur kembali di malam hari, mulai Anda bayi hingga saat Anda membaca buku ini.

Jika Anda orang yang ahli dalam bidang nada-nada, sehingga mampu membaca Al-Qur’an dengan nada yang indah, maka akan semakin Anda rasakan keindahan pengulangan tersebut. Tidak berat diucapkan lisan dan tidak pula membosankan pendengaran. Sebaliknya, semakin diulang, semakin membuat hati Anda merasakan keagungan Al-Qur’an. Keagungan tersebut semakin bertambah secara perlahan-perlahan dan mengingatkan pada Sang Pemilik Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa jalla. Hati semakin bertambah khusyuk.

Kemudian bacalah surah Al-Mursalat yaitu surah ke-77 sesuai urutan surah dalam mushaf. Lakukan seperti yang Anda lakukan dalam surah Ar-Rahman. Surah tersebut terdapat pengulangan ayat وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ yang artinya “Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).” Ayat tersebut diulang sebanyak 11 kali. Setelah itu, bacalah surah Al-Qamar yaitu surah ke-54 sesuai urutan surah-surah dalam mushaf. Terdapat pengulangan ayat فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ dalam surah Al-Qamar yang artinya “Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku.”

Demikianlah, sebagian kecil hikmah dari pengulangan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Secara lebih rinci, di bawah ini hikmah-hikmah lain adanya pengulangan ayat-ayat dalam Al-Qur’an,

1. Membangunkan Perasaan dan Akal

Pengulangan ayat bertujuan mengingatkan adanya kekhususan dari ayat tersebut. Membuat seseorang merasakan hal yang berbeda ketika membaca Al-Qur’an, sehingga perhatiannya fokus padanya. Sebagaimana telah kita contohkan dalam surah Ar-Rahman. Setiap pengulangan ayat فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ yang artinya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Menjadikan orang yang membacanya penuh perhatian pada ayat ini. Demikian juga saat membaca pengulangan ayat pada surah Al-Mursalat, وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ yang artinya “Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran) ” dan pengulangan ayat pada surah Al-Qamar, فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ yang artinya “Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku!” Bahkan, jika ayat-ayat di dalam tiga surah yang berbeda tersebut diurutkan, maka akan menjadi satu kesatuan yang unik. Cobalah baca baik-baik urutan di bawah ini, resapi maknanya, serta hubungkan secara utuh.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)”
“Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku”
Terlihat ketiga ayat tersebut saling berhubungan, padahal ketiganya adalah surah yang berbeda dan diturunkan pada zaman yang berbeda. Maha Suci Allah yang telah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang tak tertandingi oleh siapa pun.

2. Bukti bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah Swt

Pengulangan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an tidak menjadikan susunan ayat-ayat dalam sebuah surah “berantakan”, tetapi justru saling bersesuaian. Tidak hanya bersesuaian di surah itu saja, tetapi Al-Qur’an secara keseluruhan. Begitu indah, menampakkan nilai sastra yang sangat kaya. Berbeda dengan pengulangan di dalam ucapan ataupun buku karya manusia. Pengulangan yang dilakukan manusia justru akan mengurangi nilai keindahan kalimat, sehingga membuat jemu orang yang mendengarkan atau membacanya.

3. Menanamkan Serta Mengokohkan Risalah Ilahiah dalam Hati Seseorang

Semakin sering diulang, maka semakin meresap ke dalam hati, hingga mengakar di dalamnya. Jika masyarakat bisa menyerap kebatilan yang diserukan berulang-ulang atau diprogandakan terus-menerus, maka kalam Allah Swt., lebih layak untuk diserukan secara berulang-ulang kepada mereka, agar terpatri kuat dalam sanubari.
Pengulangan sejenis juga dilakukan dalam azan yang diulang sebanyak lima kali sehari. Adanya pengulangan tersebut agar manusia akan selalu “terjaga” dengan petunjuk-petunjuk Allah Swt., serta tidak melupakannya. Sudah menjadi tabiat bahwa manusia mudah lengah, sehingga sangat perlu menerima peringatan secara terus-menerus.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf [7]: 205)
***

Pengulangan Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an menempati porsi yang cukup besar dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah tersebut diulang-ulang sesuai konteks dan tujuan yang beragam, sehingga sebagian orang yang tidak memahami Al-Qur’an dengan baik, mengatakan bahwa kisah-kisah tersebut saling bertentangan. Agar memudahkan pemahaman kita, kita bisa membuat sebuah permisalan seperti berikut.

Sebuah rumah akan berbeda-beda penampakannya saat dilihat dari arah yang berbeda, baik dari depan, samping atau belakang. Hal ini mirip dengan sebuah kisah dalam Al-Qur’an yang diulang-diulang di tempat yang berbeda, sehingga penampakannya juga berbeda, meskipun intinya sama. Kisah Nabi Adam as., diulang sebanyak tujuh kali dalam surah yang berbeda. Sebagaimana disampaikan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahȃwȋr Al-Khamsah (1989). Pengulangan kisah tersebut ada di surah Al-Baqarah, Al-A’raf, Al-Hijr, Al-Isra’, Taha, Al-Kahfi, dan Shad.
Secara khusus kita akan melihat kisah Nabi Adam as., yang terdapat dalam surah Al-Baqarah dan surah Al-A’raf. Kisah Nabi Adam as., yang terdapat dalam kedua surah ini menunjukkan asal-muasal munculnya umat manusia di muka bumi. Allah ‘Azza wa jalla memberikan kemampuan kepada anak-cucu Adam as., untuk mengemban misi kemanusiaan.

Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 29)

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ

“Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu.” (QS. Al-A’raf [7]: 10)

Surah Al-Baqarah ayat 29 menerangkan bahwa Allah Swt., menciptakan segala yang di bumi untuk manusia. Allah memberikan keistimewaan pada manusia yang tidak diberikan pada para malaikat. Para malaikat tersebut merasa tak mampu menyebutkan nama-nama yang diajarkan kepada Nabi Adam as. Hal ini disebutkan dalam ayat 31 dan 32 surah Al-Baqarah.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat. seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar! Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32)

Sementara di surah Al-A’raf diterangkan, meski manusia mendapatkan keistimewaan melebihi malaikat serta memiliki kecerdasan yang luar biasa, tetapi manusia mudah sekali tergoda. Oleh karena itu, setan berkata sebagaimana dinyatakan oleh Allah,

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf [7]: 17)

Konteks kisah dalam surah Al-A’raf mengungkapkan bagaimana sosok manusia yang istimewa dan cerdas, pada akhirnya jatuh ke dalam tipu daya setan durjana. Setan berhasil membuat Nabi Adam as., dan istrinya terjerembab ke dalam rayuan busuknya. Sebelumnya Allah Swt., melarang mereka berdua mendekati pohon tertentu di dalam surga. Namun, akibat tipu daya setan, keduanya lalai dari larangan-Nya.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ * وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ * فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ

“Dan (setan) berkata, ‘Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu.’ Dan (dia) setan membujuk mereka dengan tipu daya.” (QS. Al-A’raf [7]: 20-22)

Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya (Al-Mahȃwȋr Al-Khamsah, 1989), sebenarnya Nabi Adam as., bisa saja menjawab, “Bagaimana mungkin aku ingin menjadi malaikat, sedangkan malaikat saja sujud kepadaku? Raja tidak mungkin punya keinginan untuk menjadi hamba.” Meski begitu, Nabi Adam as., dan istrinya tetap tergoda, menerjang larangan Allah Swt. Keduanya menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat, dan bersegera kembali kepada Allah Swt., memohon ampunan-Nya.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ * قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ * قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’ (Allah) berfirman, ‘Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.’ (Allah) berfirman, ‘Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.’” (QS. Al-A’raf [7]: 23-25)

Surah Al-A’raf merinci kisah Nabi Adam as., yang disebutkan secara global di surah Al-Baqarah. Setelah itu, ia menerangkan pedoman kehidupan sehari-hari untuk manusia. Adapun surah Al-Baqarah, setelah menjelaskan kisah Nabi Adam as., dikisahkan tentang Bani Israel. Setiap kisah dalam Al-Qur’an mengandung pelajaran-pelajaran penting, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Pengingat diri dalam menjalani usaha meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. []

Penulis: Irja Nasrullah

Leave A Reply

Your email address will not be published.