Tamasya Akal

0 5

Kedahsyatan penciptaan alam semesta membuat orang-orang yang berakal merenungkan siapa dan bagaimana menciptakannya. Alam semesta tercipta dalam keseimbangan yang sempurna. Miliaran bintang dan galaksi bergerak dalam edaran masing-masing dengan sangat serasi.

Padahal galaksi terdiri dari sekitar 300 miliar bintang yang saling berpindah. Namun, yang paling mencengangkan, selama perpindahan ini, tidak terjadi satu pun tabrakan. Belum lagi, kecepatan rotasi dan revolusi benda-benda di alam semesta melampaui batas imajinasi kita. Benar-benar sebuah kecepatan yang tiada terkira.

Dimensi fisik luar angkasa sangatlah besar jika dibandingkan dengan pengukuran yang digunakan di bumi. Bintang-bintang serta planet-planet dengan massa miliaran atau triliunan ton dan galaksi yang ukurannya hanya mampu dipahami melalui rumus-rumus matematika, semuanya berputar pada jalurnya dengan kecepatan yang luar biasa.

Misalnya, bumi berotasi terhadap sumbunya sehingga titik-titik di permukaannya bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 1.670 km per jam. Kecepatan linear rata-rata bumi dalam orbitnya mengelilingi matahari adalah 108.000 km per jam. Namun, angka-angka ini hanyalah mengenai bumi. Kita mendapati angka-angka yang jauh lebih besar saat memeriksa dimensi di luar sistem tata surya.

Di alam semesta, seiring bertambahnya ukuran sistem, kecepatannya pun meningkat. Tata surya berevolusi mengelilingi pusat galaksi pada kecepatan 720.000 km per jam. Kecepatan galaksi Bima Sakti sendiri, yang terdiri dari sekitar 200 miliar bintang, adalah 950.000 km per jam.

Pergerakan yang terus menerus ini tidak dapat dibayangkan manusia. Bumi beserta tata suryanya, setiap tahun bergerak 500 juta km menjauh dari lokasinya pada tahun sebelumnya (The Truth of The Life in This World, 2000).

Kesalahan sedikit saja dan bergesernya benda-benda langit dari orbitnya akan menciptakan permasalahan yang serius. Benda-benda langit akan saling bertabrakan. Namun, semua itu tidak pernah terjadi. Apakah hal yang demikian tercipta dan terpelihara dengan sendirinya?

Apakah keseimbangan luar biasa yang ada di jagat raya terjadi secara tiba-tiba tanpa Sang Pencipta? Akal yang sehat akan merenungkan keberadaan alam semesta ini dan mendapatkan jawaban bahwa ia telah diciptakan serta dipelihara oleh Dzat Yang Maha Perkasa. Kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu.

Allah, Dzat yang telah menciptakan serta memelihara segala makhluk yang ada di semesta ini dan kita salah satunya. Dia yang menjadikan kita hidup dan kelak juga yang mematikan,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 1-2)

Memikirkan serta merenungkan alam sekitar merupakan keperluan penting bagi setiap pribadi muslim untuk meningkatkan keimanan. Menghayati bahwa dunia dan isinya sengaja diciptakan oleh Allah dengan hikmah-hikmah tertentu menjadikan hati semakin khusyuk mengingat-Nya.

Dia menundukkan alam dan menjadikannya sebagai sarana untuk melayani kebutuhan manusia. Tumbuh-tumbuhan, ikan, dan semua binatang yang halal disediakan untuk mereka.

Bumi diatur sedemikian rupa agar cocok bagi kelangsungan makhluk hidup di dalamnya. Jarak antara matahari dengan bumi dan jarak bumi dengan benda-benda langit lainnya diatur dalam ketelitian yang sempurna. Tingkat panas matahari, keadaan cuaca, jumlah curah hujan, kekentalan air dan lainnya, diatur sedemikian rupa agar selalu mendukung kehidupan. Sedikit saja aturan itu menyelisihi ukuran yang seharusnya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupan makhluk di bumi.

Tujuan manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah dan memahami eksistensi-Nya. Memikirkan segala penciptaan Allah dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu perbuatan yang bernilai ibadah, karena menjadi perantara untuk memahami serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Merenungkan lingkungan sekitar, baik saat berdiri, duduk, ataupun berbaring, merupakan anjuran agama. Itulah di antara ciri-ciri orang-orang yang berakal, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci,


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)

Segala puji bagi Allah, yang telah melahirkan kita dalam keadaan beriman. Sepatutnya kita bersukur dengan cara menjaga keimanan itu sebaik-baiknya, kemudian meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Akal merupakan unsur penting dalam diri setiap orang, sebagai bekal untuk meningkatkan keimanan.

Al-Qur’an menganjurkan manusia untuk untuk berpikir, disebutkan lebih dari 20 kali. Di antaranya, seperti dalam ayat,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 3).

Al-Qur’an juga menekankan pentingnya menggunakan akal dalam memahami ayat-ayat Allah yang tersebar di penjuru semesta. Anjuran itu disebutkan lebih dari 50 kali, misalnya dalam ayat,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (mengerti).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 4).

***

Akal, Keistimewaan Bagi Manusia

Akal merupakan keistimewaan yang Allah berikan kepada manusia. Dengan akal kita mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dari makhluk-makhluk hidup lainnya. Memahami segala aturan yang Allah tetapkan, kemudian berserah diri dalam ketaatan. Ada aturan halal dan haram yang harus diaplikasikan dalam kehidupan. Ada etika pantas dan tidak pantas yang mengiringi setiap perbuatan.

Dengan akal, manusia mampu memikirkan hal-hal mendalam tentang keadaan dirinya, baik tentang bagaimana dia tercipta, siapa yang menciptakan, dan kelak akan ke mana. Pengakuan akan eksistensi Pencipta merupakan fitrah yang berada dalam diri manusia. Secara otomatis, dirinya mengakui bahwa ada seorang Pencipta yang telah menciptakan dirinya dan juga dunia tempat dia berada.

Majalah Time edisi 25 Oktober 2004 mengetengahkan tema menarik yaitu seputar “Gen Ketuhanan” (The God Gene) dalam diri manusia. Di dalamnya dibahas tentang bagaimana manusia secara otomatis merasakan wujud seorang Pencipta, keinginan untuk beribadah kepada-Nya, serta keyakinan adanya kenikmatan dan kesengsaraan setelah mati. Semua itu tampak dalam sejarah perkembangan dan peradaban manusia yang ada di dunia ini.

Contoh konkret yaitu peradaban Mesir Kuno. Mereka sangat memperhatikan kematian seseorang atau para Fir’aun zaman tersebut. Mayat-mayat diawetkan dengan cara dibalsam, lalu dijadikan mumi. Proses ini sangat penting, karena akan memengaruhi kehidupan mereka setelah mati. Mereka meyakini adanya kehidupan lain setelah di dunia.

Pahatan serta gambar-gambar di kuil-kuil peninggalan Firaun juga menceritakan hal yang demikian. Bahkan ditemukan buku peninggalan mereka yang membahas kematian. Selain itu di tempat lain, seperti di India, Cina, Amerika Selatan, Spanyol, Perancis, Inggris, dan Swiss, ditemukan bukti-bukti yang serupa (Rihlat al-‘Aql, 2013).

Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah difirmankan Allah Swt. dalam Kitab Suci-Nya,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman),”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami, kami bersaksi,” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raf [7]: 172).

Penulis: Irja Nasrullah

Leave A Reply

Your email address will not be published.