Siapa yang Pertama Kali Memperingati Kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW?

0 175

Ada tuduhan memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi SAW adalah sesuatu yang mengada-ada dan tidak ada dasarnya dari Kanjeng Nabi. Tuduhan ini sudah sering dilontarkan, diulang-ulang, walaupun sebenarnya tak banyak dipedulikan. Terlepas dari tuduhan semacam itu, ada beberapa keterangan para ulama kaliber dunia yang meneguhkan betapa indahnya memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi SAW di bulan Rabiul Awwal ini, lalu siapa kah yang pertama kali memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi?

Yang pertama kali memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi SAW adalah Beliau sendiri. Ada sebuah riwayat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang kurang lebih pengertiannya begini: “Ketika Kanjeng Nabi SAW ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, hari tersebut (Senin) adalah hari saya (Kanjeng Nabi) dilahirkan”. Hal ini seperti disebutkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Malaky Al-Makky dalam kitabnya Haula Al-Ikhtifal Bidzikri Al-Maulid An-Nabawiy Asy-Syarif.

Selanjutnya Sayyid Muhammad menyebutkan sebuah keterangan dari Ibnu Hajar Al-Asqolani, bahwa ada perilaku-perilaku khusus di hari-hari tertentu dalam rangka mensyukuri nikmat Allah SWT dan/atau menolak bencana. Perilaku-perilaku tersebut termasuk di dalamnya melaksanakan puasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan kebaikan lainnya.

Sedangkan dalam keterangan Imam Jalaludin As-Suyuthi, memberikan satu riwayat dari Imam Baihaqi tentang Kanjeng Nabi SAW yang pernah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah pada masa kenabian. Padahal, diketahui Kanjeng Nabi sudah pernah diaqiqahi oleh kakeknya, Abdul Mutholib. Dan hal tersebut, menurut Imam Jalaludin As-Suyuthi, adalah bentuk syukur Kanjeng Nabi SAW atas hari kelahiran beliau. Dan bagi kita, umatnya, memperingati hari kelahiran beliau adalah termasuk perilaku yang baik -disuka- (mustahab).

Kanjeng Nabi dulu memang memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa. Lalu apakah hari ini kita harus memperingatinya dengan berpuasa? Berpuasa adalah salah satu jenis ibadah yang amat mudah dilakukan oleh siapa saja, terkecuali bagi orang sakit, tidak seperti perilaku ibadah lain seperti sedekah yang meharuskan ada kelebihan harta. Mengingat kala itu, puasa adalah bentuk ibadah termudah untuk dilakukan bagi seluruh kalangan Sahabat. Sederhananya berpuasa adalah standar minimal, dan intinya adalah melakukan kebaikan dalam rangka memperingati hari kelahiran Kanjeng Nabi SAW sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Jadi, ya mumpung baru hari awal bulan Rabiul Awwal (Maulud), mari memperingati kelahiran Kanjeng Nabi SAW dengan perilaku-perilaku kebaikan. Membaca sholawat, membaca (atau mendengar) sejarah Kanjeng Nabi SAW, bersedekah, bersilaturahmi, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Pun jika tak setuju dan masih menganggap memperingati hari kelahiran beliau adalah hal yang mengada-ada, tetapi berperilaku baik kepada manusia bukan kah juga hal yang baik? Karena setahu saya, junjungan kita, Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah orang yang diutus untuk menyempurnakan perilaku baik.

Disarikan dari: Haula Al-Ikhtifal Bidzikri Al-Maulid An-Nabawiy Asy-Syarif, karya Sayyid Muhammad Al-Malaky Al-Makky.

Oleh: Landy T. Abdurrrahman (Mahasiswa program doktoral UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

Leave A Reply

Your email address will not be published.