Masuklah Lewat Jalur Cinta

Oleh: Ahmad Saif El-Millah, Lc., Dipl. (Devisi Pendidikan El-Montada).

0 68

Masuklah lewat jalur cinta, kemudian letakan rasa takut di atasnya. Jangan jadikan rasa takut sebagai jalur utama, dan cinta dinomorduakan. Jika kamu masuk lewat jalur cinta, dunia akan terbuka untukmu. Kamu akan merasa tenang dan menikmati hidup. Cintailah dirimu, hidupmu, keluargamu, profesimu, dan tetanggamu. Cintai pula Tuhanmu, Nabimu, agamamu. Cintailah…, cintailah…, cintailah… Jadilah pecinta sejati yang mencintai segala hal. Tentu saja, dengan penuh ketulusan. Jangan coba-coba menggadai, apalagi memperjual-belikan cinta.

Lalu, bagaimana menjadi seorang pecinta? “Membaca, membaca, dan membaca”, ini caranya. Tak heran jika para masyayikh berpesan untuk senantiasa membaca sejarah Nabi dan kitab-kitab para ulama dengan seksama, agar bisa belajar bagaimana cara Nabi dan para ulama mencintai, karena di dalam goresan kitab-kitab mereka terkandung rasa cinta yang membuncah dari hati. Bahkan, dua ulama yang terkenal kaku dan konservatif dalam memahami text agama pun, rupanya hati mereka dipenuhi dengan cinta. Sebut saja Ibnu Hazm yang mengarang kitab “Thauqul Hamamah”, khusus berbicara tentang cinta. Juga Ibnul Qayyim, mengarang kitab “Raudhatul Muhibbin”, taman para pecinta.

Satu ulama yang tak boleh terlewat ketika belajar tentang cinta, ialah “sulthanul ‘asyiqin” Umar Ibnul Faridh, rajanya para perindu. Saking menikmatinya ia akan cinta, semua hal dalam hidupnya terasa ringan dan indah, kecuali jauh dari seseorang yang dia cintai. Sebagaimana tertuang dalam syairnya yang terkenal, ia berpesan kepada seseorang yang dicintai, “siksalah aku sesukamu, dengan apapun, kecuali kau menyiksaku dengan jarak.”

‎عذّب بما شئت غير البعد عنك تجد # أوفى محب لما يرضيك مبتهجا

Perjalanan Ibnul Faridh mendapatkan cinta sejati tidaklah mudah. Setelah mendapat nasihat dari gurunya, Ibnul Baqqal untuk pergi ke Makkah, dia menyendiri (‘uzlah) di sebuah lembah yang jauh dari khalayak. Tempt ini ditempuh dalam perjalanan 10 hari kira-kira dari Makkah. Dia ‘uzlah selama 15 tahun. Dari situlah hatinya bercahaya penuh dengan cinta. Makna-makna cinta itu dia ungkapkan dalam bentuk qashidah yang masyhur disebut dengan ‘taiyyah’, mencapai 761 bait syair.

Ya, selain membaca, menyendiri termasuk cara untuk mendapatkan cinta, agar hati terang dan yang menempati kemudian adalah cinta sejati. Persis dengan yang dilakukan Rasulullah Saw. Sebelum Rasul mendapatkan cahaya wahyu pertama, beliau menyendiri terlebih dahulu, jauh dari makhluk dan hal-hal yang bisa mengotori kesucian fitrah manusia.

Menurut Ibnul Faridh, setelah 15 tahun menyendiri, ternyata hakikat cinta bahkan tidak bisa dicari. Cintalah yang memilih tempatnya sendiri. Betul, bahwa cinta hakikatnya berat, sakit, dan menyiksa –kata Ibnu Faridh, akan tetapi wujud dari cinta adalah keindahan. Baginya, keindahan cinta bahkan ada pada kesengsaraan. Meskipun bermula dari api, dan akhirnya bisa mengantarkan sang pecinta kepada kematian, namun justru di dalam kematian itu ada kehidupan baginya.

Para ulama sekaliber Ibnul Faridh, Ibnul Arabi, dan Arrumi, adalah para pecinta yang cintanya tidak lagi bisa diukur. Sehingga, tidak ada huruf yang mampu mewakili gejolak cinta di hati mereka. Akhirnya, mereka coba ungkapkan dengan bahasa isyarat dan atau kiasan, yang kemudian bahasa-bahasa itu banyak disalah-artikan oleh pembaca yang tidak membacanya dengan cinta, atau dengan cinta yang minimal setara levelnya dengan mereka. Bahkan, akan ada titik di mana bahasa isyarat dan kiasan pun tak mampu mengungkapkan cinta mereka, sehingga ‘diam’ adalah cara terbaik dan paling menyakitkan untuk mengungkapkan cinta.

Begitulah cinta. Beda dengan ilmu pengetahuan, cinta adalah tentang rasa. Maka dari itu, para ulama sufi memiliki ungakapan,

‎”العالم إذا تكلّم ربّما هلك، والمحبّ إذا لم يتكلّم هلك”

Seorang yang ‘alim terkadang lebih baik diam agar tidak binasa karena terpeleset. Sedangkan seorang pecinta, jika dia tidak mengungkapkan cintanya, pasti akan binasa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.