Pelecehan terhadap Nabi SAW., Bagaimana Sebaiknya Menyikapi ini?

Oleh: Ahmad Saif al-Millah, Lc., Dipl.

0 35

“Survei jumlah pelecehan terhadap kehormatan Nabi saw di London mencapai 1.760, selama tahun 1970-1994. Belum di Prancis, Amerika, dan berbagai negara lain. Hingga tahun lalu, totalnya mencapai 3600 bentuk pelecehan kepada Nabi SAW.”, demikian dijelaskan oleh Syekh Ali Jum’ah.

Dari data tersebut kita bisa mengetahui, bahwa sejak 50-an tahun lalu, pelecehan demi pelecehan terhadap Nabi terus terjadi. Menariknya, hal itu justru membuat Nabi kita semakin mulia, semakin terangkat derajatnya. Milyaran umatnya semakin mencintainya, dan semakin banyak shalawat yang dihadiahkan untuknya.

Dalam kesempatan yang sama, Syekh Ali Jum’ah juga berpesan, “Tetaplah di rumah masing-masing. Perbanyak istighfar dan shalawat. Jadilah hamba Allah yang terbunuh, bukan membunuh. Hati-hati apabila ternyata tindakan reaksioner malah akan membuat mereka semakin membenci Allah dan RasulNya.”

(الزم دارك، واندم على خطيئتك، وأكثر الصلاة على النبي، وكن عبد الله المقتول، ولا تكن عبد الله القاتل، ولا تكن من الذين يسبون الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم)

Pesan ini senada dengan Grand Syekh Al Azhar yang mengingatkan kita kepada ayat yang sekaligus menjadi kabar gembira untuk kita, “Bahwa kami Allah lah yang akan menjagamu dari mereka yang melecehkanmu wahai Muhammad”.
‎(إنا كفيناك المستهزئين)

Bukan maksud agar berpangku tangan. Namun menyikapi pelecehan terhadap Nabi tak harus dengan kekerasan. Lakukanlah yang bisa kita lakukan dengan mempertimbangkan manfaat dan madharatnya. Sebagaimana Grand Syekh memberi contoh tindakan nyata, yakni dengan mengusulkan undang-undang internasional tentang diskriminasi terhadap Islam dan para pemeluknya.

Selain itu, Grand Syekh baru saja meresmikan agenda internasional tentang “Pengenalan kepribadian Nabi SAW”. Grand Syekh juga menyerukan kepada umat Muslim di barat agar tetap tenang, sepahit apapun keadaannya, jadilah warga Negara yang baik, dan meleburlah dengan penduduk setempat dalam hal-hal yang positif.

Apa yang dilakukan Grand Syekh itu menjadi salah satu bukti, bahwa Al Azhar selalu mengajarkan, untuk melawan kebencian harus diikat dengan cara-cara damai, konstitusional, dan rasional. Sebagaimana Nabi juga selalu memberi teladan, dengan tidak pernah membenci orang-orang yang membenci Nabi.

Salah satu lantaran untuk tetap rasional menyikapi persoalan ini, kiranya kita bisa mencatut pesan Syekh Yusri, “Tinggalkanlah hal-hal yang simpang siur, dan berpeganglah pada hal-hal yang jelas terang benderang, karena salah satu sumber perpecahan adalah sikap reaksioner. Ketika terjadi kekacauan di Mesir, saya tidak pernah menyinggung itu di dalam khutab-khutbah saya, silahkan cek.”
(اترك المتشابهات، وخلّيك مع المحكمات)

Dengan menimbang mashalahat dan madharatlah seorang Muslim akan sampe ke titik moderat, menimbang apa efek yang akan terjadi jika melakukan ini dan itu, yang kemudian disebut dengan -fiqhul ma’aalaat-. Menimbang-nimbang bahwa Nabi marah jika agama dilecehkan, pun ternyata Nabi juga sangat pemaaf kepada para pembencinya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.