EL-MONTADA SUKSES GELAR KAJIAN ILMIAH BERSAMA PCI-JQH NU MESIR

0 65

Rabu, Rabu, 2 Desember 2020, PCI-JQH (Pengurus Cabang Istimewa- Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz) NU Mesir bekerja sama dengan El-Montada (Forum Mahasiswa Pascasarjana Indonesia di Mesir) sukses menyelenggarakan acara Bincang Santai “Mengenal Korelasi Ilmu Qiraat dengan Ilmu lainnya”. Acara yang bertempat di sekretariat PCINU Mesir, Darrasah ini dihadiri kurang lebih 150 peserta, baik dari kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) maupun mahasiswa dari negara-negara tetangga (kawasan Melayu) lainnya yang sedang studi di Mesir.

Dua narasumber yang memang ahli di bidangnya dihadirkan dalam bincang santai ini, yaitu Ust. Agus Salim, Lc., MA (Penulis tesis “Kajian Bahasa dan Tahkik dalam Faidhul Barakat fi Sab’ al-Qiraat dan kandidat doktor di Fak. Bahasa Arab, Univ. Al Azhar) dan Ust. M. Nizanul Falih, Lc., Dipl. (Penerima ijazah al-Qiraat al-‘Asyr al-Kubra dan kandidat master di Fak. Ushuludin, Univ. Al Azhar).

Sebelum masuk acara inti, ada beberapa sambutan yang disampaikan, yaitu sambutan pertama dari ketua PCI JQH NU Mesir 2020-2021, Ust. Ahmad Nasihul Umam. Beliau mengucapkan terima kasih kepada El-Montada atas kerja samanya dalam penyelenggaraan acara tersebut dan mengapresiasi semua pihak yang telah membantu kesuksesan acara. Selanjutnya sambutan dari ketua El-Montada Mesir, Ust. Faiz Husaini, Lc., MA., yang juga menghaturkan terima kasih kepada PCI JQH NU Mesir. Beliau mengharapkan agar acara-acara serupa bisa terus terlaksana pada kesempatan yang lain. Selain itu, beliau menyampaikan muqaddimah seputar ilmu qira’at dengan mengutip perkataan Imam Ibn ‘Asyur dalam muqaddimah tafsirnya “at-Tahrir wa at-Tanwir’’: “Ilmu qira’at itu ilmu penting dan mustaqil, tetapi sangat berhubungan dengan berbagai disipilin ilmu lainnya. Kita juga berhutang budi kepada para mufassir yang sudah mengabadikannya dalam kajian tafsir atau dari sisi tawjih qira’atnya, baik yang mutawatir maupun syadzah.”

Beliau juga menambahkan, bahwa dalam mendalami ilmu qiraat tidak hanya dengan sisi turatsnya saja, tetapi juga perlu mengetahui berbagai syubhat-syubhat seputar imu qiraat yg dimunculkan oleh sebagian orientalis seperti yang sudah dicontohkan oleh sebagian ulama, seperti Syeikh Nurudin Itr dalam karya beliau mengutip pendapat Ignác Goldziher (1850-1921) bahwa sebab ikhtilaf qira’at terkait dengan khat atau rasm. Selain itu, Régis Blachère (1900-1973), salah seorang orientalis Prancis memberikan pendapat kontroversial bahwa boleh saja qira’at bi al-ma’na. Namun, pendapatnya tersebut dibantah oleh Dr. muhammad Abu syuhbah dalam bukunya “al-Madkhal fi Ulum al-Qur’an’’dan Prof. Dr. Nuruddin ‘Itr dalam bukunya ‘’Ulum al-Qur’an al-‘Adzim’’, karena periwayatan qira’at haruslah mutawatir. Periwayatan bi al-ma’na boleh jika itu kaitannya dengan hadis qudsi.” Adapun yang berkaitan dengan perbedaat qira’at itu juga bersumber dari Rasulullah SAW., bukan seperti yang dituduhkan di atas.

Acara pun semakin menarik saat masuk ke pembahasan inti. Materi pertama disampaikan Ust. M. Nizanul Falih, Lc., Dipl. Sebagaimana tema yang sudah ditentukan sebelumnya, beliau menyampaikan korelasi ilmu qira’at dengan ilmu-ilmu lain. Tak kalah penting, beliau menjelaskan definisi qira’at, syarat qira’at bisa diterima menurut para ulama, sejarah Al-Qur’an dan hal-hal pokok lainnya.

Kenapa bacaan Imam Hafs menjadi paling populer di dunia, khususnya di kawasan Asia? Beliau menjelaskan karena keberkahan yang didapat beliau selama bermulazamah selama puluhan tahun dengan gurunya, yaitu Imam Ashim.

Adapun tentang perkembangan ilmu qira’at sampai pada masa Ibnu Mujahid (324 H) juga mengalami proses dan tahapan. Kenapa Qira’at dinisbahkan kepada para Imam qira’at, tidak kepada para sahabat? Karena diambil/lebih dipopulerkan setelah periode/masa sahabat. Meski pada dasarnya varian qira’at itu sudah ada sejak al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.” jelasnya. Selain itu beliau juga menjelaskan korelasi ilmu qira’at dengan ilmu lainnya, seperti qira’at dalam QS. Al-Buruj: 22 : في لوح محفوظ , hal ini terkait dengan ilmu kalam. Kata ‘’mahfudz” ada yang membaca rafa’ dengan makna bahwa al-Qur’an yang disebutkan dalam ayat sebelumnya adalah yang terjaga dan ada juga yang membaca jar, dengan maksud bahwa yang dimaksud yang terjaga dalam ayat ini adalah lauhnya” Tambahnya.

Senada dengan penyampaian pemateri pertama, Ust. Agus Salim, Lc., MA., memberikan penjelasan seputar qira’at dalam ranah realitas. Beliau memberikan tips dan motivasi bahwa belajar qira’at harus betul-betul fokus meluangkan waktu, hafal rumus dan dilanjutkan dengan praktik.
Beliau sempat mengutip perkataan Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho bahwa perkembangan pengajaran ilmu qira’at di Indonesia, mirip jualan di sore hari. Yang penting gimana supaya laku (menarik). Metodenya harus dipermudah. Dulu harus menghafal matan syatibi, dll, tapi sekarang untuk mendalami qira’at tidak harus hafal al-Qur’an dan tidak harus hafal matan syatibi terlebih dahulu.
“Akhlaq seorang muqri’ (ahli dalam ilmu qira’at) yang harus dijunjung tinggi di Indonesia. Jangan suka pamer sanad dan jangan terlalu ‘’membisniskan’’ Al-Qur’an. Pemilik sanad yang rendah, tetapi berakhlak, lebih bagus daripada sanad tinggi tetapi minim akhlak.” Beliau menjelaskan.

Ust. Agus juga menjelaskan juga tentang korelasi ilmu qira’at dengan ilmu fikih, seperti seputar perbedaan qira’at dalam kalimat “حتى يطهرن” (QS. Al-Baqarah: 222) yang berkaitan erat dengan fikih dalam madzhab empat. Menurut Maliki dan Syafi’i yaitu bahwa darah sudah mampet (berhenti), sehingga untuk berhubungan suami-istri harus terlebih dahulu mandi bagi istri yang baru saja haidh. Sedangkan menurut Hanafi dan Hambali, yaitu sudah mampet (berhenti), meski belum mandi, maka sudah boleh berhubungan suami-istri. Beliau juga menambahkan bahwa bahasa Arab bisa menjadi hujjah ‘’ashrul ihtijaj’’ itu pada masa 150 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW. diutus dan 3 abad setelah beliau diutus.

Selain itu beliau juga memberikan motivasi, bahwa prospek mendalami ilmu qira’at sangatlah bagus di Indonesia, karena peminatnya sangatlah banyak dan posisi kita sekarang di Mesir yang sangat banyak para ahli di bidang ini, sehingga kita jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Masih banyak lagi hal-hal yang disampaikan dua narasumber dalam bincang santai yang diadakan selama kurang lebih tiga jam itu.

Acara ditutup dengan doa yang dibawakan ketua El-Montada, Ust. Faiz Husaini, Lc., MA. Dilanjutkan dengan pemberian piagam penghargaan dan kenang-kenangan dari panitia (Perwakilan dari PCI JQH NU Mesir dan El-Montada) kepada masing-masing narasumber dan dilanjutkan dengan ramah tamah.

Leave A Reply

Your email address will not be published.