Mengenang Syekh Thaha Hubaisyi

0 58

Alhamdulillah sempat duduk di bawah kaki beliau ngaji kitab Ihya Ulumiddin, walaupun hanya sedikit. Sempat berguru kepada murid langsung Imam Ghazali pengarang Ihya. Iya, cerita masyhur dari para muridnya bahwa beliau ngaji Ihya langsung dengan Imam Ghazali dalam mimpi.

Beliau melihat dengan mata batin, selalu bahagia dengan majlis ilmu, terutama ngaji ihya. Selalu membanggakan majlis ihyanya karena beliau meyakini bahwa Imam Ghazali datang dalam majlisnya itu. “Jamuan imam Ghazali”, begitu beliau menyebut hidangan syukuran makan-makan, misalnya ketika selesai satu bab dalam kitab Ihya.

Salah satu masyayikh yang produktif dan dermawan, sejak dulu hingga sekarang, salah satu kebiasaan beliau adalah membagi-bagi karya beliau sendiri dengan gratis. Sehingga, selain di majelis, para muridnya juga berguru lewat tulisan-tulisan beliau, dalam lintas bidang, tidak hanya akidah-filsafat, sekte-sekte, dan lainnya, pun masalah-masalah kontemporer beliau tulis.

Selain mengarang dan mengajar, beliau juga termasuk dalam anggota Majlis A’la li Asyyuun Al Islamiyyah, Majma’ Buhus Islamiyyah di Azhar dan anggota ulama senior Al Azhar. Walaupun sepuh, tapi wajah dan suara selalu lantang dan lugas ketika mengajar. Itu semua kurang lebih wujud dari kecintaan beliau dengan ilmu.

Salah satu kenang-kenangan saat ngaji, yang tidak pernah saya lupakan adalah menurut beliau Rasulullah Saw. itu sangat dekat dengan kita, setiap saat di samping kita, terutama di dalam shalat. “Wahai anak-anakku (panggilan kasih sayang untuk murid-muridnya), coba perhatikan bacaan ketika tahiyyat akhir dalam shalat, “السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته”, kalimatnya menggunakan kata “ك”, ia adalah dhamir mukhatab, artinya “engkau”, kata engkau ditujukan untuk orang yang hadir di depan kita kan? Nah artinya, Rasulullah Saw. itu sangat dekat dengan kita”, kata beliau di suatu majelis.

Pesan beliau kepada para wisudawan Indonesia (tahun 2017 atau di bawahnya), begini kurang lebih:

“Anak-anakku yang datang ke sini, ke Al Azhar, pusat ilmu. Orang tua kalian telah mengizinkan kalian datang pastinya atas izin Allah, itu semata-mata adalah untuk memikul beban yang kami pikul, yaitu untuk membawa ajaran Nabi Saw. ke negara kalian, kalian harus menanggung itu. Kami para masyayikh Azhar, melepas tanggung jawab di pundak kami dan meletakannya di pundak kalian. Sehingga, perjalanan terakhir bukanlah ketika kalian berhasil menaklukan diktat kuliah dan lulus, lebih besar dari itu, kelulusan kalian bahkan adalah sebuah permulaan”.

Rahimahullah rahmatan wasi’ah ya Rahman ya Rahim.
————————-
Foto sujud yang penuh makna; “Orang yang sujud untuk Allah dan patung berhala itu sama bentuknya, perbedaan keduanya ada pada niat, dengan niatmu kamu bisa sampai kepadaNya. Niat bisa menyampaikan manusia kepada suatu titik yang tidak bisa dicapai dengan amal”, Syekh Thaha Hubaisyi.

Oleh: Ahmad Saif El Millah, Lc., Dipl.

Leave A Reply

Your email address will not be published.